RESENSI BUKU PERANG JAWA 1825-1830 - REFA HINDRIANI

 Nama:Refa Hindriani

Kelas:12.6

Cover buku 

Judul buku:Perang Jawa 1825-1830 Perang Diponegoro Melawan Imperium Terbesar Di Dunia

Penulis:Abdul Rohim

Penyunting:Ardhi Aan

Penerbit:Anak Hebat Indonesia 

Tahun terbit:Cetakan pertama,Juni 2024

Jumlah halaman:169 Halaman


Sinopsis.

Buku ini membahas salah satu bab paling heroik sekaligus tragis dalam sejarah Nusantara: Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung dari tahun 1825 hingga 1830. Melalui riset mendalam dan bahasa yang komunikatif, Abdul Rohim mengajak pembaca memahami dinamika sosial, politik, ekonomi, dan spiritual yang menjadi latar belakang meletusnya perang besar tersebut.

  1. Latar Belakang Sejarah

Penulis memulai dengan menggambarkan kondisi Jawa awal abad ke-19. Setelah kekalahan kerajaan-kerajaan pribumi dalam berbagai perjanjian dengan Belanda, wilayah Jawa berada dalam kendali kolonial yang semakin ketat. Pemerintah kolonial Belanda tidak hanya menguasai hasil bumi, tetapi juga mencampuri urusan internal keraton.

Sistem sewa tanah (landrente), pajak yang mencekik rakyat, dan penjarahan sumber daya menjadi pemicu ketegangan sosial yang meluas. Selain itu, perubahan nilai-nilai tradisional akibat masuknya budaya Barat dan korupsi di lingkungan bangsawan membuat rakyat semakin kehilangan kepercayaan terhadap penguasa.

Di tengah kondisi ini, muncul sosok Pangeran Diponegoro, putra sulung Sultan Hamengkubuwono III dari Yogyakarta, yang dikenal religius, sederhana, dan sangat mencintai rakyat kecil. Ia menentang gaya hidup hedonis bangsawan istana serta campur tangan Belanda dalam pemerintahan.

  1. Meletusnya Perang

Pemicu langsung perang terjadi saat pemerintah kolonial berencana membangun jalan yang melintasi tanah pribadi Diponegoro di Tegalrejo, tanpa izin darinya. Insiden kecil ini memicu kemarahan besar karena dianggap sebagai simbol penghinaan terhadap martabat bangsawan Jawa dan kedaulatan tanah leluhur.

Diponegoro pun mengangkat senjata, dan perang besar pun dimulai.

Abdul Rohim menjelaskan bahwa perang ini bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga perang spiritual. Pangeran Diponegoro melihat perjuangan ini sebagai bentuk jihad fi sabilillah — perang suci untuk menegakkan kebenaran dan keadilan melawan penindasan.

  1. Jalannya Perang

Penulis menggambarkan dengan rinci bagaimana strategi perang Diponegoro memanfaatkan medan pegunungan dan hutan, serta dukungan rakyat desa. Taktik gerilya yang diterapkan pasukannya membuat Belanda kewalahan meskipun memiliki persenjataan lebih modern.

Pada puncaknya, Perang Jawa melibatkan lebih dari 200.000 pasukan Belanda dan pribumi, menjadikannya salah satu konflik terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-19.

Namun, perlawanan panjang ini menimbulkan penderitaan luar biasa: desa-desa hancur, ribuan rakyat meninggal, dan ekonomi Jawa lumpuh total.Abdul Rohim juga menyoroti peran tokoh-tokoh penting lain seperti Kyai Maja, Sentot Alibasyah, dan Pangeran Mangkubumi, yang bersama Diponegoro membangun jaringan perlawanan yang berbasis agama dan nasionalisme lokal.

  1. Akhir Perlawanan

Setelah hampir lima tahun berperang, Belanda mengubah strategi dengan pendekatan politik dan tipu muslihat. Mereka menawarkan perundingan damai yang ternyata menjadi jebakan. Pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang dan diasingkan ke Makassar hingga wafat di sana pada tahun 1855.

Kekalahan itu tidak memadamkan semangat perlawanan rakyat. Justru, seperti yang ditulis Abdul Rohim, “semangat Diponegoro tetap hidup dalam darah perjuangan bangsa Indonesia.”

  1. Makna dan Relevansi

Penulis menutup bukunya dengan refleksi bahwa Perang Jawa adalah simbol perlawanan terhadap penindasan global—melawan “imperium terbesar di dunia,” yakni kekuasaan kolonial Eropa. Perang ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pembentukan kesadaran nasional dan identitas keindonesiaan. 

Kelebihan dari buku ini.

  • Narasi historis yang hidup: Penulis berhasil menghidupkan suasana perang dengan deskripsi yang kuat dan narasi yang mudah diikuti.

  • Riset mendalam: Didasarkan pada sumber sejarah, arsip Belanda, dan naskah Jawa, buku ini menyajikan perspektif yang berimbang.

  • Nilai moral dan nasionalisme: Buku ini membangkitkan semangat cinta tanah air dan menghargai jasa pahlawan.

Kekurangan  dari buku ini.

  • Minim peta dan kronologi visual yang bisa membantu pembaca memahami strategi perang secara geografis.

  • Gaya penulisan kadang terlalu heroik, sehingga aspek analitis sosial-politik agak terpinggirkan.

  • Kesimpulan 

Buku Perang Jawa 1825–1830 karya Abdul Rohim merupakan karya sejarah populer yang penting untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya menuturkan kisah perang, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang keberanian, keadilan, dan keyakinan spiritual dalam menghadapi penindasan.

Dengan gaya naratif yang menarik dan isi yang padat makna, buku ini menghidupkan kembali semangat Diponegoro sebagai simbol perlawanan bangsa terhadap kekuasaan kolonial. Bagi pelajar, mahasiswa, dan pecinta sejarah nasional, karya ini bisa menjadi jendela untuk memahami bagaimana perjuangan lokal membentuk kesadaran nasional Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI BUKU SEMANGAT JIWA BANGSA JEPANG - OFY ROFIAH

RESENSI BUKU GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA - RANGGA PRADIFTA