RESENSI BUKU GIYUGUN: TENTARA SUKARELA PADA PENDUDUKAN JEPANG DI JAWA DAN SUMATRA - AKHTAR SYAHMI HNIFIAN TAUFIQ
RESENSI BUKU GIYUGUN: TENTARA SUKARELA PADA PENDUDUKAN JEPANG DI JAWA DAN SUMATRA
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Giyugun: Tentara Sukarela Pada Pendudukan Jepang Di Jawa Dan Sumatra
Pengarang : Aiko Kurasawa
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit : 2024
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 176
ISBN : 978-623-160-469-9
PENDAHULUAN
Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dipenuhi oleh pertempuran dan perjuangan diplomatik, tetapi juga oleh pembentukan institusi-institusi awal yang akan menjadi fondasi negara. Salah satu institusi tersebut adalah Giyūgun, yaitu tentara sukarela yang dibentuk oleh Jepang di masa pendudukan, baik di Jawa maupun di Sumatra. Buku Giyūgun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra karya Aiko Kurasawa mengangkat kisah menarik, yang seringkali luput dari perhatian dalam pelajaran sejarah sekolah. Saya memilih buku ini untuk diresensi karena topiknya sangat relevan dengan pelajaran sejarah kelas 12, terutama dalam membahas pendudukan Jepang dan kontribusi militer dalam perjuangan kemerdekaan.
ISI RESENSI
Ringkasan Isi Buku
Buku ini membahas secara mendalam bagaimana Jepang membentuk pasukan sukarela dari rakyat Indonesia untuk membantu mempertahankan wilayah Asia Tenggara dari serangan Sekutu. Di Jawa, tentara ini dikenal dengan nama PETA (Pembela Tanah Air), sementara di Sumatra disebut Giyūgun. Dalam pembahasannya, Aiko Kurasawa menjelaskan bagaimana proses pembentukan pasukan ini dimulai pada tahun 1943, dengan struktur militer yang cukup rapi seperti pembagian unit dalam bentuk daidan (batalion), yang masing-masing terdiri dari sekitar 500 orang. Secara total, terbentuk sekitar 66 daidan di Jawa dengan jumlah pasukan mencapai 35.000 orang. Selain itu, di Sumatra juga terbentuk satuan serupa, meskipun belum seramai PETA di Jawa. Buku ini membahas latar belakang pembentukan pasukan, proses pendidikan militer para perwiranya, dan bagaimana pengalaman militer ini menjadi bekal penting saat Indonesia menyatakan kemerdekaan. Banyak mantan perwira Giyūgun yang kemudian berperan aktif dalam pembentukan BKR, TKR, dan akhirnya TNI.
Analisis dan Ulasan
Kelebihan:
Buku ini mengisi celah penting dalam historiografi Indonesia mengenai PETA/Giyūgun, terutama di Sumatra, yang selama ini kurang dibahas dibandingkan Jawa.
Data kuantitatif yang disajikan (jumlah unit, prajurit, struktur organisasi) cukup rinci sehingga memberi gambaran konkret.
Buku ini punya nilai penting sebagai sumber pengajaran sejarah, karena bisa membantu siswa/mahasiswa memahami bahwa kemerdekaan tidak serta‐merta muncul dari satu faktor, melainkan dari proses yang kompleks, termasuk kontribusi pasukan militer yang “dibentuk oleh penjajah” tapi kemudian menjadi bagian perjuangan nasional.
Kekurangan:
Mungkin juga terdapat keterbatasan sumber jika dokumen‐dokumen Jepang atau arsip lokal Sumatra kurang lengkap atau sulit diakses, sehingga beberapa argumen harus bersandar pada narasumber lisan atau sumber sekunder yang mungkin ada bias.
Translasi/penulisan di dalam buku nya kurang menggunakan tanda baca, peletakan kata nya kurang teratur sehingga pembaca kesulitan dalam menganalisis isi dari bukunya
Kutipan Penting
“Baik di Jawa maupun di Sumatra, perwira Indonesia diberi pendidikan militer yang kualitasnya cukup tinggi sehingga mereka mampu membentuk pasukan untuk perjuangan kemerdekaan sesudah Proklamasi”, “Di seluruh Jawa terbentuk 66 daidan dengan sekitar 35.000 prajurit”. Kutipan-kutipan ini menunjukkan bahwa meskipun Giyūgun dibentuk oleh Jepang, hasilnya justru memperkuat kesiapan rakyat Indonesia dalam menyambut kemerdekaan dan mempertahankannya.
PENUTUP
Giyūgun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra adalah buku yang sangat berharga untuk memahami salah satu aspek penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia: bagaimana kerangka militer awal yang “dibentuk oleh penjajah” justru menjadi bagian dari perjuangan dan pembentukan identitas militer nasional. Dengan data organisasi yang cukup lengkap, dan analisis dari sudut akademik, buku ini membantu mengisi kekosongan dalam literatur sejarah, terutama soal Giyūgun di Sumatra. Buku ini paling cocok dibaca oleh siswa ataupun mahasiswa yang suka mempelajari sejarah Indonesia serta yang ingin mendalami peristiwa pendudukan Jepang dan transformasi militer menjelang era kemerdekaan. Buku ini juga cocok dibaca oleh masyarakat umum yang tertarik sejarah Indonesia, terutama yang ingin mengetahui sisi yang kurang dibahas sehari-hari tentang bagaimana lembaga‐lembaga militer terbentuk sebelum Republik.
IDENTITAS PERESENSI
Nama : Akhtar Syahmi Hanifian Taufiq
Kelas : XII.6
Absensi : 2
Nama Sekolah : SMA Martia Bhakti
Komentar
Posting Komentar