RESENSI BUKU SEGALA YANG DIISAP LANGIT - MAULIDA NURUL AINI
RESENSI BUKU
(SEGALA YANG DIISAP LANGIT)
I. IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Segala Yang Diisap Langit
Pengarang : Pinto Anugrah
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2021
Kota Terbit : Yogyakarta
Jumlah Halaman : ± 144
ISBN : 978-602-291-842-4
PENDAHULUAN
Novel Segala yang Diisap Langit karya Pinto Anugrah, diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Agustus 2021, sebanyak ± 144 halaman, Buku ini berlatarkan kisah pada masa perang Padri (perang saudara antara Kaum Adat yang mempertahankan tradisi dan kaum Padri yang ingin memurnikan ajaran Islam) di tahun 1800-an. Bukan tentang Tuanku Imam Bonjol atau perjuangan melawan Belanda kala itu, tapi tragedi yang menimpa keluarga-keluarga bangsawan Minangkabau, yang menjadi korban maupun pelaku perang Padri itu sendiri.
Novel ini menceritakan perubahan zaman dari kejayaan para bangsawan Minangkabau yang hidup dari tambang emas, menuju kekuasaan gerakan Kaum Padri di Sumatera Barat. Snag penulis memadukan data sejarah, data ingatan memori kolektif, data tentang mitos yang lahir dari peristiwa Padri.
Dengan demikian, novel ini layak untuk diresensi untuk mengeksplorasi bagaimana cerita tersebut menggabungkan elemen-sejarah dan fiksi, serta bagaimana ia menyampaikan pesan-pesan sosial budaya yang tetap relevan hingga masa kini.
ISI RESENSI
Ringkasan Isi Buku
Novel ini mengambil latar Minangkabau pada awal abad ke-19, tepatnya saat Perang Padri—konflik besar di Minang antara Kaum Padri (yang ingin memurnikan atau menyebarkan Islam) dengan Kaum Adat (yang mempertahankan tradisi turun temurun).
Tokoh utama adalah Bungo Rabiah, seorang perempuan bangsawan Minang dari keluarga besar yang menganut sistem matrilineal (garis keturunan diturunkan lewat perempuan). Dalam keluarganya beredar mitos bahwa garis bangsawan mereka akan putus di generasi ketujuh. Rabiah tidak mau kutukan itu terjadi. Untuk melanjutkan garis keturunan, Rabiah melakukan sesuatu yang berani dan dianggap tidak lazim: ia menjadi istri kelima seorang bangsawan bernama Tuanku Tan Amo. Rabiah yakin dengan menikahinya, ia akan mendapat anak perempuan yang kelak bisa menjaga warisan garis matrilineal. Meski penuh tekanan, akhirnya Rabiah berhasil hamil dari Tuanku Tan Amo. Kehamilan ini disambut dengan penuh harapan, karena diyakini akan melahirkan anak perempuan yang dapat menjaga garis keturunan.
Bagi Rabiah, kehamilan itu adalah bukti bahwa mitos tersebut bisa dipatahkan. Rabiah melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Bungo Laras.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, di sisi lain, kakak laki-laki Rabiah, Magek, justru berpihak pada Kaum Padri. Bagi Magek, adat dan tradisi keluarga mereka banyak yang bertentangan dengan agama, mulai dari poligami, perjudian, sabung ayam, hingga penggunaan candu. Magek merasa terpanggil untuk "membersihkan" keluarganya dari adat yang ia anggap salah.
Konflik terbesar muncul ketika Magek tidak hanya berseberangan pemikiran, tetapi juga menghunus pedang kepada keluarga sendiri. Ia rela menghancurkan harta, adat, bahkan hubungan darah, demi menegakkan keyakinannya.
Rabiah, yang berusaha melawan mitos dan menjaga adat, harus berhadapan dengan kakaknya sendiri yang ingin memutus semua itu. Endingnya, Bungo Rabiah dan bayi perempuannya Bungo Laras meninggal dunia di Rumah Gadang yang terbakar akibat kekacauan konflik Kaum Padri. Dari sini pembaca diajak menyaksikan drama keluarga, pertarungan ideologi, dan penderitaan pribadi dalam pusaran perubahan besar masyarakat Minangkabau.
Analisis dan Ulasan
Kelebihan:
Mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau, Latar Perang Padri serta pertentangan adat dan agama disajikan dengan kuat, memberi wawasan tentang sejarah lokal yang jarang diangkat dalam novel popular.
Panjang novel relative singkat (144 halaman), sehingga pembaca tidak merasa terbebani.
Bahasa yang puitis, indah, dan gaya penceritaan yang membangun suasana emosional dan filosofis.
Kekurangan:
Beberapa istilah adat Minangkabau kurang diberi penjelasan sehingga pembaca agak sulit memahami konteks adat tanpa penjelasan.
Plot terasa padat dan cepat, beberapa konflik kurang dieksploriasi secara mendalam.
Kutipan Penting
“Hanya karena bumi beserta alam ini tidak mengeluarkan emas lagi untuk dirimu, kau kecewa, kau marah, dan melarikan diri! Lalu, kau kembali mengatasnamakan Tuhan. Ingin mengubah segalanya. Ingin seperti apa yang kau pikirkan.” (hal. 115).
Makna dari kutipan tersebut menggambarkan ‘Orang yang kecewa dengan hidup kadang mencari pelarian dengan menyalahkan orang lain atau mengatasnamakan hal besar (seperti agama, aturan, atau kekuasaan) untuk membenarkan tindakannya’
PENUTUP
Dari keseluruhan isi dan penyajiannya, Segala yang Diisap Langit merupakan novel yang kaya akan makna dan penuh dengan refleksi tentang kehilangan serta perjalanan batin manusia. Dengan bahasa yang puitis dan alur yang menyentuh, buku ini tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenung lebih dalam. Novel ini layak dibaca oleh siswa dan mahasiswa yang ingin memperluas wawasan sastra, juga bagi pecinta novel yang menyukai gaya penulisan artistik dan penuh perenungan.
IDENTITAS PERESENSI
Nama: MAULIDA NURUL AINI
Kelas: XII.6
Komentar
Posting Komentar